Menjadi Suporter PSIS Semarang, Loyal Tapi Pintar

Panser Biru di Magelang

Loyal tapi pintar ialah kata – kata yang sering di suarakan untuk para suporter terutama pendukung Mahesa Jenar (Julukan PSIS Semarang). Fanatisme menjadi supporter merupakan gambar umum fans sepakbola lokal seperti saya. Mencintai tim kebanggaan kota sendiri walaupun sedang terpuruk atau berada di papan atas. 

Menjadi pemain sepak bola adalah cita – cita pasaran pada jaman saya kecil. Setiap ditanya oleh Guru waktu SD soal cita – cita, selalu menjawab menjadi pemain sepak bola. Setelah melihat kenyataan, cita – cita tersebut mulai pudar. Karena saya tidak jago dalam bermain sepak bola, lebih baik menjadi suporter. Tentunya dengan membanggakan tim kota lokal tempat saya tinggal, PSIS Semarang. Pada tahun 2000an, saya menikmati pertandingan PSIS hanya melalui radio. Walaupun sebatas radio, namun bahagianya tidak terbanyang. Apalagi ketika penyiar radio berteriak mengucapkan GOLLL. Tentunya gol untuk PSIS bukan untuk lawan.  

Ketika saya SD, seragam olahraga tim SD saya meniru desain PSIS dan saya memilih nomor punggung 17. Hingga saat ini kaos tersebut masih muat saya gunakan. Betapa kecilnya tubuh saya dulu, atau kaosnya yang kebesaran haha– 
Nomor tersebut digunakan Harry Salisbury saat membela tim PSIS Semarang dengan posisi sayap yang menggunakan kaki kiri. Pada era itu, PSIS merupakan salah satu tim unggulan di Indonesia. Untuk pertama kali mendukung PSIS Semarang secara langsung di stadion Jatidiri pada waktu SMK. Saya meraskaan antusias supporter yang sanggat tinggi dan cukup sedikit was – was jika terjadi kerusuhan atau kehilangan helm.  

PSIS Semarang Menjadi Tim Musafir di Magelang 

Pada Liga1 2019, PSIS Semarang harus menjadi tim musafir di kota Magelang. Karena stadion Jatidir Semarang sedang tahap renovasi yang diperkirakan jadi akhir 2020. Namun hal tersebut bukan menjadi halangan saya dan supporter Mahesa Jenar lainnya untuk mendukung langsung. Supporter Mahesa Jenar sekarang sudah dewasa. Tidak memiliki musuh antar supporter seperti jaman dulu. Lebih adu kreatif dalam memberi dukungan antar supporter. 

Fanatik dan jiwa bar-bar yang dapat membuat pemicu kerusuhan. Kadang juga hasil pertandingan atau wasit yang tidak fair membuat jiwa bar-bar itu muncul. Namun saya tidak cukup berani untuk meluapkan emosi terhadap tindakan, apalagi menimbulkan kerusuhan. Loyal Tapi Pintar.  

PSIS Semarang sekarang sedang berjuang di papan bawah. Saya sendiri berharap semoga tidak terdegradasi agar dapat menggunakan Stadion Jatidiri Semarang dengan berada di kasta tertinggi liga di Indonesia. Agar lebih dekat dalam mendukung secara langsung. Tidak menunggu pertandingan kandang di akhir pekan untuk menyaksikan pertandingan. 

Apapun kondisi PSIS, saya pasti akan mendukung tim ini. Ya paling kalau sedang kesal karena mainya bapuk, memilih tidak menonton haha.

TTD
Bukan Suporter Big Match

Leave a Reply